Tanaman berakar serabut biasanya memiliki sistem perakaran yang menyebar ke samping, bukan menembus dalam ke tanah. Struktur ini membuat akar serabut kurang efektif dalam menahan air dalam jumlah besar. Ketika hujan deras, air tidak dapat diserap dengan cepat sehingga limpasan permukaan meningkat. Inilah yang menyebabkan tanaman seperti sawit tidak mampu mengendalikan banjir secara optimal.
Selain kedalaman akar yang terbatas, tanaman berakar serabut cenderung mengalami kesulitan menahan tanah pada lahan miring. Tanpa akar yang masuk jauh ke dalam tanah, struktur tanah menjadi lebih mudah longsor atau tererosi. Hal ini semakin memperburuk kondisi saat hujan lebat karena air hujan akan membawa permukaan tanah ke area yang lebih rendah.
Tanaman seperti sawit juga tidak menyediakan lapisan organik yang cukup tebal di permukaan tanah. Lapisan daun gugur dari sawit tidak sebanding dengan hutan alami yang memiliki humus tebal dan kaya bahan organik. Tanah tanpa humus memiliki kapasitas infiltrasi yang rendah, sehingga air lebih banyak mengalir di atas permukaan.
Selain itu, sistem pertanian monokultur membuat lahan tanaman berakar serabut semakin tidak efektif dalam mencegah banjir. Tanpa keberagaman tanaman, tanah tidak memiliki struktur yang kompleks untuk menahan air. Vegetasi bawah biasanya terbatas, sehingga kemampuan tanah menyerap air juga menurun.
Tekanan dari aktivitas manusia pada tanah di perkebunan sawit—seperti penggunaan alat berat atau pengelolaan lahan yang intensif—mengakibatkan tanah menjadi lebih padat. Tanah padat memiliki daya serap air yang sangat rendah. Kombinasi antara akar dangkal dan tanah padat mengakibatkan air langsung mengalir tanpa terserap secara maksimal.
Dengan berbagai alasan tersebut, jelas bahwa tanaman berakar serabut tidak dapat diandalkan sebagai solusi pengendalian banjir. Upaya mitigasi banjir seharusnya mempertahankan vegetasi alami dengan akar dalam dan ekosistem yang lebih beragam.
